Kakek istriku adalah pejuang, mantan tentara Heiho di jaman penjajahan Jepang yang kemudian menjadi tentara angkatan udara Indonesia. Beliau sering bercerita bagaimana dulu bergerilya dan bertempur di masa perjuangan kemerdekaan. Di suatu kesempatan kakek istriku bertanya kepadaku, “Nak,mengapa orang harus belajar sejarah?”. Aku terdiam, berpikir dan termenung. Apa sejatinya maksud dari pertanyaan kakek ini. Kemudian istriku yang kala itu duduk tepat di sampingku berbisik, ”Agar kita dapat belajar dari apa yang telah dilakukan para pendahulu kita dan menjadi orang yang bijak”. Suatu ungkapan yang sangat mendalam yang mungkin sudah jarang sekali terpikirkan saat ini.
Aku kembali terdiam, berpikir, dan termenung. Aku teringat masa kecil yang aku habiskan di bagian timur pulau Jawa, masa remaja di bagian utara pulau Sumatera, hingga saat ini mencoba peruntungan di seputaran ibukota. Menjalani karya mulai dari pencacah data, penulis artikel, peneliti hingga pendidik. Menapakkan langkah dari ujung timur hingga ujung barat Pulau Jawa, menjelajahi daratan pulau Sulawesi hingga mengaruhi lautan perbatasan sepanjang Pulau Sumatera. Rasanya dalam perjalanan hidup melintasi batas ruang dan waktu, cukup banyak yang telah aku lalui. Tapi sebagai salah seorang anak bangsa, pelajaran apa yang sudah aku peroleh dari sejarah bangsa dan negara Indonesia? Bisa jadi banyak orang belajar tentang sejarah Indonesia, tidak saja warga negara Indonesia tetapi warga negara lain. Tetapi mungkin sangat sedikit yang mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah itu sendiri.
Belum lama berselang, aku mendapat kesempatan yang sangat berharga bertemu dengan para ahli dan pakar ekonomi Indonesia. Banyak pemikiran dilontarkan, beberapa diantaranya sangat erat kaitannya dengan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi Indonesia. Salah satu hal yang banyak membuat orang tertegun dan tersadar adalah bahwa jauh sebelum Millennium Development Goals (MDG’s) menfokuskan tujuan pembangunan dunia pada pengentasan kemiskinan, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia mengamanahkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Kemiskinan yang dalam MDG diterjemahkan dalam dimensi pendapatan, pendidikan, kesehatan, bahkan kecukupan pangan hingga perumahan. Kesemuanya tidak lain dan tidak bukan akan terjawab oleh pemenuhan hak dasar tiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Dengan pekerjaan dan penghidupan yang layak, rakyat akan tinggal di rumah yang layak dan terhindar dari kelaparan. Dengan pekerjaan dan penghidupan yang layak, rakyat dapat mengakses pendidikan dan kesehatan. Betapa bangganya menyadari bahwa apa yang menjadi tujuan pembangunan di banyak negara di belahan dunia saat ini, sejatinya telah dipikirkan solusinya oleh para pendahulu kita, termasuk diantaranya pahlawan proklamator Soekarno dan Hatta.
10 Desember 1948, the Universal Declaration of Human Rights (UDHR) ditandatangani oleh 48 negara di dunia memuat 30 pasal mengenai jaminan atas hak-hak asasi manusia. Salah satu diantaranya adalah mengenai kesetaraan gender. Namun, R.A. Kartini, lahir 1879 di kota Rembang Jawa Tengah. Pejuang emansipasi wanita pertama yang pernah ada di Indonesia atau mungkin bahkan di dunia. Jauh lebih dahulu ketimbang Eleanor Roosevelt menorehkannya gender equality dalam UDHR. Kartini telah jauh lebih dahulu mengajarkan kepada bangsa ini arti kesetaraan gender. Hak wanita atas ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosial tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan tanggung jawabnya kepada keluarga. Kartini juga memberikan pelajaran bagi kita semua akan arti pentingnya pendidikan. Walaupun hanya mengenyam pendidikan hingga umur 12 tahun, Kartini sangat berkeinginan dan mempunyai kesempatan untuk melanjutkan studi hingga ke Eropa. Bahkan, jauh sebelum konsep keluarga berencana dilahirkan, pada tahun 1901 Kartini sudah berpendirian tegas agar mengatur jumlah anaknya sesuai kemampuannya untuk dapat menjamin pendidikan dan kehidupannya yang layak.
Itu saja? Pasti tidak. Dari perjuangan bergerilya Jenderal Sudirman, sejarah mengajarkan kita tentang arti kegigihan. Dari perjuangan bapak Proklamator Soekarno dan Hatta, sejarah mengajarkan kita tentang arti ketegasan dan konsistensi. Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil dari sejarah Indonesia, lebih banyak dari sekedar menghapal nama pahlawan dan asal daerahnya. Bahkan beberapa buku saja mungkin tidak akan cukup untuk menorehkan semua apa yang dapat kita pelajari dari sejarah. Mulai dari hal-hal yang mungkin terkesan sepele hingga hal-hal besar seperti kemerdekaan dan hak asasi manusia. Sejarah pun terus berlanjut, dan Indonesia masih terus memberiku banyak pelajaran.
Namun, aku kembali terdiam, berpikir, dan termenung. Sejarah dalam banyak hal pasti berulang. Dan dalam banyak hal pula permasalahan yang serupa kita hadapi , saat ini, di masa sekarang. Lantas, mengapa orang terkadang malas belajar sejarah? Mungkin kata kuncinya adalah memahami apa yang ada didalamnya. Dengan memahami sejarah, mudah-mudahan kita akan bangga, bangga akan sejarah Indonesia. Memang tidak semua sejarah adalah tentang keberhasilan, ada juga diantaranya tentang kegagalan. Namun tetap saja sejarah memberikan banyak pelajaran. Pelajaran bagaimana mencapai keberhasilan dan bagaimana menghindari kegagalan. Mudah-mudahan dengan belajar sejarah; kita dan anak cucu kita menjadi orang yang bijak. Amin.
Aku bangga akan sejarah Indonesia – Aku bangga aku anak Indonesia.
“Pelajarilah sejarah perjuanganmu sendiri yang sudah lampau, agar supaya tidak tergelincir dalam perjuangan yang akan datang. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, never leave
Aku kembali terdiam, berpikir, dan termenung. Aku teringat masa kecil yang aku habiskan di bagian timur pulau Jawa, masa remaja di bagian utara pulau Sumatera, hingga saat ini mencoba peruntungan di seputaran ibukota. Menjalani karya mulai dari pencacah data, penulis artikel, peneliti hingga pendidik. Menapakkan langkah dari ujung timur hingga ujung barat Pulau Jawa, menjelajahi daratan pulau Sulawesi hingga mengaruhi lautan perbatasan sepanjang Pulau Sumatera. Rasanya dalam perjalanan hidup melintasi batas ruang dan waktu, cukup banyak yang telah aku lalui. Tapi sebagai salah seorang anak bangsa, pelajaran apa yang sudah aku peroleh dari sejarah bangsa dan negara Indonesia? Bisa jadi banyak orang belajar tentang sejarah Indonesia, tidak saja warga negara Indonesia tetapi warga negara lain. Tetapi mungkin sangat sedikit yang mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah itu sendiri.
Belum lama berselang, aku mendapat kesempatan yang sangat berharga bertemu dengan para ahli dan pakar ekonomi Indonesia. Banyak pemikiran dilontarkan, beberapa diantaranya sangat erat kaitannya dengan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi Indonesia. Salah satu hal yang banyak membuat orang tertegun dan tersadar adalah bahwa jauh sebelum Millennium Development Goals (MDG’s) menfokuskan tujuan pembangunan dunia pada pengentasan kemiskinan, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara Indonesia mengamanahkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Kemiskinan yang dalam MDG diterjemahkan dalam dimensi pendapatan, pendidikan, kesehatan, bahkan kecukupan pangan hingga perumahan. Kesemuanya tidak lain dan tidak bukan akan terjawab oleh pemenuhan hak dasar tiap warga negara atas pekerjaan dan penghidupan yang layak. Dengan pekerjaan dan penghidupan yang layak, rakyat akan tinggal di rumah yang layak dan terhindar dari kelaparan. Dengan pekerjaan dan penghidupan yang layak, rakyat dapat mengakses pendidikan dan kesehatan. Betapa bangganya menyadari bahwa apa yang menjadi tujuan pembangunan di banyak negara di belahan dunia saat ini, sejatinya telah dipikirkan solusinya oleh para pendahulu kita, termasuk diantaranya pahlawan proklamator Soekarno dan Hatta.
10 Desember 1948, the Universal Declaration of Human Rights (UDHR) ditandatangani oleh 48 negara di dunia memuat 30 pasal mengenai jaminan atas hak-hak asasi manusia. Salah satu diantaranya adalah mengenai kesetaraan gender. Namun, R.A. Kartini, lahir 1879 di kota Rembang Jawa Tengah. Pejuang emansipasi wanita pertama yang pernah ada di Indonesia atau mungkin bahkan di dunia. Jauh lebih dahulu ketimbang Eleanor Roosevelt menorehkannya gender equality dalam UDHR. Kartini telah jauh lebih dahulu mengajarkan kepada bangsa ini arti kesetaraan gender. Hak wanita atas ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosial tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita dan tanggung jawabnya kepada keluarga. Kartini juga memberikan pelajaran bagi kita semua akan arti pentingnya pendidikan. Walaupun hanya mengenyam pendidikan hingga umur 12 tahun, Kartini sangat berkeinginan dan mempunyai kesempatan untuk melanjutkan studi hingga ke Eropa. Bahkan, jauh sebelum konsep keluarga berencana dilahirkan, pada tahun 1901 Kartini sudah berpendirian tegas agar mengatur jumlah anaknya sesuai kemampuannya untuk dapat menjamin pendidikan dan kehidupannya yang layak.
Itu saja? Pasti tidak. Dari perjuangan bergerilya Jenderal Sudirman, sejarah mengajarkan kita tentang arti kegigihan. Dari perjuangan bapak Proklamator Soekarno dan Hatta, sejarah mengajarkan kita tentang arti ketegasan dan konsistensi. Dan masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita ambil dari sejarah Indonesia, lebih banyak dari sekedar menghapal nama pahlawan dan asal daerahnya. Bahkan beberapa buku saja mungkin tidak akan cukup untuk menorehkan semua apa yang dapat kita pelajari dari sejarah. Mulai dari hal-hal yang mungkin terkesan sepele hingga hal-hal besar seperti kemerdekaan dan hak asasi manusia. Sejarah pun terus berlanjut, dan Indonesia masih terus memberiku banyak pelajaran.
Namun, aku kembali terdiam, berpikir, dan termenung. Sejarah dalam banyak hal pasti berulang. Dan dalam banyak hal pula permasalahan yang serupa kita hadapi , saat ini, di masa sekarang. Lantas, mengapa orang terkadang malas belajar sejarah? Mungkin kata kuncinya adalah memahami apa yang ada didalamnya. Dengan memahami sejarah, mudah-mudahan kita akan bangga, bangga akan sejarah Indonesia. Memang tidak semua sejarah adalah tentang keberhasilan, ada juga diantaranya tentang kegagalan. Namun tetap saja sejarah memberikan banyak pelajaran. Pelajaran bagaimana mencapai keberhasilan dan bagaimana menghindari kegagalan. Mudah-mudahan dengan belajar sejarah; kita dan anak cucu kita menjadi orang yang bijak. Amin.
Aku bangga akan sejarah Indonesia – Aku bangga aku anak Indonesia.
“Pelajarilah sejarah perjuanganmu sendiri yang sudah lampau, agar supaya tidak tergelincir dalam perjuangan yang akan datang. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, never leave